baksos klp4

“uhmm,.. kayaknya dari keluar kota tadi ketemu plang beok, tapi ne kok masih 9 km lage yah? padahal udah jalan 1 jam an lebih neh” gerutu nixon.
“emang tau tempat disini dari manna?” timpalku.
“itu mas, info dari temennya temen, katanya desa paling idt diantara desa idt deh” si *** berusaha menjelaskan.

***

“pufhh,.. g salah neh? serasa pejabat ato seleb aja ne man” komen novian, begitu sampai d depan sekolah. maklum, ketika kami datang, semua anak berbaris, meski berantakan, menyambut kedatangan kami. begitu juga bapak-ibu guru, para orangtua murid dan penduduk sekitar.

***

“pokoknya semua g jadi dapat bingkisan!” teriakku d depan kelas, emosiku akhirnya tak tertahankan! ketika aku membagikan bingkisan d depan kelas, tiba² hampir separuh isi kelas (yang sebenarnya terdiri dari dua kelas) berlari mengerubutiku, medorong, mendesak dan menjamah semua bingkisan dalam kotak supermi yang sedang aku bagikan, persis seperti kerusuhan penonton sepak bola berebutan memukulin wasitnya. tak peduli, aku melangkah keluar kelas mengemas tas ku dan sisa bingkisan yang ada, selintas aku lihat wajah² tertegun dari anak² laen, yang duduk rapi menunggu pembagian bingkisan.

***

segera aku panggil kedua wajah yang dari tadi mengintip jendela, melihat kami para panitia menikmati makan siang.
“ada apa dik? mau apa?” tanyaku, mataku mencari² kotak makanan yang masih ada untuk diberikannya.
“boleh minta kardusnya mas?” jawabnya.
“uhm,.. kardus?” ulangku.
“iya mas, buat ntar di jual,..”
“o, gitu. soory ya dik, kardusnya masih d pakai, ntar klu acara dah kelar, ambil aja gpp kok.” keduanya mengangguk angguk. “neh aku kasih satu kotak makan aja yah,..”

***

capek“kedua anak itu, ponakan ma budhe nya loh, usianya hampir sama mas, maennya juga sering bareng” demikian penjelasan dari ibu guru, ketika kami mengelilingi dua anak perempuan tanpa baju yang duduk di serambi sekolah. kulitnya yang tersibak tampak hitam dan kotor, di beberapa bagian nampak kutil menghiasi. keduanya selalu membungkukkan wajah sambil memainkan sebatang lidi ke tanah.

***

“wah dulu disini sering kejadian genting berjalan mas” begitu bu guru menjelaskan.
“wow,.. emang tempat ini dulunya kuburan ya bu?” tanyaku.
“o,.. bukan begitu mas, maksudnya, dulu begitu sekolah ini di bangun, banyak genting yang tiba² aja jatuh dari atap tanpa ada apa². bahkan dulu di gedung sebelah, satu atap kelas tiba² roboh begitu anak terakhir melewati pintu keluar kelas”

One thought on “baksos klp4

  1. jadi inget, gimana ujian kesabaran buat ngadepin anak2 di acara baksos klp kemaren.. Suara mpe serak2, harus teriak2 mencoba membuat mereka sedikit tertib… dan.., gagal… pfff.. kebayang, betapa susahnya jadi guru…

    Yang paling memprihatinkan dr lokasi baksos kita kemaren adalah…, sanitasi & hygiene yang bener2 jadi problem besar di sana.. Di sepanjang sungai kotor, berwarna hijau (campuran limbah organik dan anorganik mungkin, plus mikroalga dll) itu, berjajar ibu2, mb2 dan anak2 yg mencuci baju dan mandi… prihatinn…

    Kemiskinan memang jahaatttt….

    ho’oh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s