bikin paspor

29/sabtu 30 minggu 31/senin 01/slasa 02/rabu 03/kamis 04/jum’at 05/sabtu 06/minggu 07/senin

tanggal 29/12/07 – 02/01/08 adalah standard nya liburan di kantor ku. uhm,. . bingung ngapain aja di kampung, mending bikin paspor ajah, sapa tau ntar maret jadi nonton f1 bareng ponakan di melbourne, amin,..

sayang kantor dirjen imigrasi libur juga di hari kejepit 31/12/07, padahal beberapa orang kujumpai saat kesana sama² kecewanya, kenapa yah libur, kan akhir taon banyak turis juga yang mo ngurus ke imigrasi (kale aja euy,..). pns juga manusia kale, butuh liburan! so, baca² papan informasi deh, gmn caranya dapat bikin, syarat², bea dll.

so, i have only 02/01/08 to get di paspor! secara kamis dah harus nyampe jakarta buat kantoran!

rabu 02/01/08 ±08. 00 wib, halaman kantor imigrasi dah di jejali mobil + motor dengan plat dari berbagai daerah sekitarnya. pasti efek dari liburan panjang neh, jadinya hari pertama pasti antree! begitu masuk pintu depan masih agak canggung, maklum baru pertama kali, mencari² tulisan ‘informasi’, ‘penerangan’ ato ‘custemer service’ (klu di bank²). kok g ada? ketemunya tulisan² ‘loket’ yang tergantung di atas meja pelayanan. mendekat ke petugas yang lagi bengong terjadilah obrolan ;

“pagi mas,.. ”

“bisa di bantu?”

“mo bikin paspor mas,.. ”

“oh gitu, ada ktp, kk, ijazah ato akte kelairan?”

“ada mas,.. tanya sekalian, kalau pegawai emang harus pake surat pengantar dari kantor ya?”

“iya mas”

“oh,..” (wah harus k jakarta dulu neh!!) “uhm,.. klu wiraswasta gmn mas?”

“ga perlu”

“o gitu, lha klu wiraswasta tapi ktp nya di tulis pegwai swasta gmn mas?”

“kok bisa?”

“salah tulis kali mas yang bikin, di kiranya sama² pake ‘swasta’ nya”

“pake surat keterangan dari kelurahan aja mas”

“ok gitu, bisa yah,..”

cepet² menuju rumah pak rt sepulang dari kantor imigrasi. teettt,.. bel pertama yang kubunyikan tidak ada tanda² orang beranjak untuk membukakan pintu. tanda² tak ada kehidupan semakin nyata setelah aku pencet bel yang ketiga kalinya, that”s enough. siang menjelang sore, tanda kehidupan di rumah pak rt masih sama. akhirnya sore my mom just told me that he went for hajj,.. oh,.. betapa g peduli nya ku pada tetangga. so,.. where should i got it? sang sekretaris tentunya. telp tetangga, telp tetanggi, ternyata sang sekretaris tersebut adalah temen maen waktu kecil.

“ga bisa hari rabu ini paspor kelar” begitu analisa ku, so besok cuti 2 hari deh, terpaksa kamis pagi segera ‘reuni’ dengan temen maen waktu kecil, ternyata dia juga bukan sekretaris rt tapi sekretaris rw lebih tepatnya. diperbantukan, begitulah curhatnya. dengan modal surat pengantar rt yang di buatin ‘sang sekretaris rt’ pergi ke kelurahan untuk membuat surat pengantar kelurahan. uang 1oooo idr aku titipkan sebagai ‘keikhlasan’ seperti yang petugas kelurahan bilang, “seikhlasnya aja mas,..” (dalam hati sebenernya akan lebih ikhlas klu bea itu legalkan).

3o menit kemudian dah di kantor imigrasi, tapi g canggung lagi, dah menguasai medan. setelah fotocopy beberapa berkas, trus beli form seharga 1oooo idr. “mas tulis namanya sesuai akte atau ijazah yah” begitu mbak petugas menjelaskan sambil memberikan form pendaftaran kepadaku. o, o,.. i hate this,.. secara namaku luqman klu di liat secara harfiah, bukan lukman seperti di akte dan semua ijazah ku. ini gara² petugas akte jaman dahulu yang teledor ato ortu yang kurang teliti? wallahualam. dengan sangat terpaksa aku mendaftar sesuai dengan nama yang tertera di ijazah, daripada ntar bolak-balik urusan dan jadi lama, pikirku simple. setelah isi form, kembali ke loket sebelumnya dengan petugas yang berbeda;

“bisa di bantu mas?”

“mo bikin paspor,..”

“sudah isi form? persyaratan komplit?”

“sudah mas” (sambil menyerahkan semua berkas yang dah aku lengkapi, petugas terdiam sejenak sambil memeriksa berkas)

“mau kemana mas?”

“ke ozzy ”

“ada keperluan apa?”

“menenggok keluarga, ada kakak disana”

“ke ozzy sama sapa?”

“rencana sama mom”

“kapan?”

“sekitar maret”

“wah jadi tidak terburu-buru yah?”

“emang kenapa?”

“mas nya mo ‘cepet’ atau ‘biasa’?”

“uhm,..” (curiga) “mangsudnya?”

“klu ‘cepet’ itu 2-3 hari tapi klu biasa bisa 2 minggu lebih, mungkin tanggal 14 an”

“loh mas, itu di papan kan tulisannya standar 3 hari selesai?”

“iya mas, klu tidak rame, kan mas liat sendiri, rame banget neh, maklum awal taon”

“o gitu, nah klu masukin sekarang, standar 3 hari, besok jumat dah jadi dong,..” (masih keukeh)

“wah 3 hari itu setelah foto mas (tetap menjawab dengan senyum). kira² foto besok senin ato selasa, trus minggu depannya balik lagi mas (kamis kan tanggal merah, jum’at harkitnas) buat wawancara ma tanda tangan.”

“trus apa lagi bedanya?” (semakin curiga)

“klu mau cepet bea nya 5oo rb mas”

“klu biasa?”

“25o rb” (menjawab dengan tetap menunduk)

“ok deh aku pilih yang cepet ajah!” (wuih,.. terbayang klu harus bolak-balik jakarta-solo dengan sesuatu ketidakpastian, belon lagi masalah ijin kantor, capeekkkk deh,..)

“ok mas, bisa bayar sekarang dan silahkan duduk menunggu di panggil ya, buat ambil foto.”

sewaktu menunggu, ngobrol sesama pencari paspor. bapak yang kuajak ngobrol ternyata seorang pelaut! (jadi inget waktu masih kanak², katanya nenek moyang kita pelaut yah?) dia sudah keliling hampir seluruh dunia ikut kapal tanker. balik kampung buat memperpanjang paspornya dan senasib juga bahwa harus bayar 5oo ribu, tapi dia cerita, “wah mas, di sini enak, ga rumit dan lebih murah, dulu sewaktu di jakarta, klu urusan pengin cepet, minim 8oo ribu an, itu 5 tahun yll” nah loh!

menunggu adalah kegiatan paling menyebalkan! yup, setelah hampir 3 jam menunggu panggilan, akhirnya masuk juga ke ruang foto. duduk sebentar, menunggu 2 orang yang foto, kusempatkan buat ‘make up’! petugas sempat meminta ku untuk pengambilan gambar ulang, entah karena alasan apa, semoga bukan krn objek fotonya ajah, kan foto bagus depend on man behind di gun kan?

keluar dari foto, aku dibekali 1 map berkas untuk di cap ke petugas berikutnya. masih antri juga. iseng aku buka berkasnya,.. “pak ini datanya ada yang ga bener, saya lahir di solo bukan di djogdja, bermasalah kah nantinya?” bilangku ke bapak petugas. “lho anda ini gimana seh!? kok tidak di cek duluan sebelum foto!?” bilangnya membentak. “lha kan tadi saya masuk di suruh duduk tunggu, trus foto, trus di kasih ne berkas baut di anter ke bapak! ga di suruh ngecek!” bilangku g mau kalah. “apa se,..? oh, klu cuma data itu ga penting, gpp!” bilangnya sambil liat kesalahan yang aku tunjukin (uhm,.. tau gitu tadi kutulis namaku pake q bukan k! gumanku dalam hati). “banyak permintaan di percepat ne mas, pusing deh” keluhnya setelah itu. aneh, banyak orang mengambil kesempatan cari banyak ‘rejeki’ ne justru pusing krn banyak saking banyaknya, gumanku lagi,..

kembali ke mas di bagian pelayanan tadi, di bilangnya untuk kembali 2 hari lagi buat wawancara & tanda tangan. itu kan senin yah? “wah mas, besok ajah, jum’at, soalnya senin aku ga bisa” belaku. “iya mas, sebenernya bisa besok tapi ne banyak orang yang antri, mas kan bisa liat sendiri” balasnya. “tapi klu ‘cepet’ kan harusnya bisa, pokoknya saya minta besok pagi, senin aku harus keluar kota”. “ok deh mas nanti saya bantu, tapi ga janji yah, besok abis jum’atan mas bisa telp dulu ke nomor ini” bilangnya sambil menyerahkan kartu namanya. “besok ya mas” kataku trus meninggalkan kantor imigrasi.

sebelum pergi jum’atan, aku telp mas petugasnya,.. rbt sebelum cahaya nya letto membuatku sedikit terhibur sekitar 2 menit sampai suara seorang wanita di seberang menyapa “maaf, telp yang anda hubungi sedang sibuk”. uhm,.. wah kayaknya ntar jum’atan harus doa lebih khusu’ biar paspor bisa jadi ne,.. gumanku.

after lunch aku telp lagi,.. “sudah jadi, silahkan kesini buat tanda tangan mas” balas mas petugas dari kantor imigrasi. alhamdulillah! begitu mo brangkat, hujan deras menggodaku, but daripada senin besok cuti lagi atau harus bolak balik jakarta-solo, mending basah²an 3o menit buat perjalanan ke kantor imigrasi euy, semangatku,.. sampai di imigrasi ternyata pekerjaan membosankan menguji iman ku, menunggu! hampir satu jam menunggu, akhirnya di panggil juga buat wawancara oleh seorang ibu muda yang hamil tua,.. pertanyaannya hampir sama, mo kemana? sama sapa? kapan? + satu pertanyaan, “tidak buat kerja di sono kan mas?” selidiknya. “tidak bu” jawabku. “ok, klu gitu tolong isi surat pernyataan tidak akan bekerja di luar negri dengan paspor ini di atas materai 6ooo”. uhm,..

menunggu lama rupanya menjadi bagian dalam tiap proses bikin paspor. “tunggu tanda tangan pak kepala kantor ya mas” jelasnya sambil mempersilahkan duduk kembali. akhirnya setelah menunggu kembali hampir 1 jam buat tanda tangan kepala kantor imigrasi “mas ini paspornya, silahkan di cek trus tanda tangan disini,.. ”

oalah,.. gini tho bikin paspor,.. kayak gini tho paspor itu,.. gumanku sambil membuka-buka paspor baruku,..

3 thoughts on “bikin paspor

  1. kalau lihat angka di atas, ‘jalan cepat’ bikin paspor di Solo ternyata lebih mahal dari Jakarta. catatan Masluq 2008 ini lumayan panjang, semakin ke sini kok makin ringkas? :). Gpp sih, keep on writing.

    Like

      1. Masluq, itu komenku tahun 2013, dibalasnya 2 tahun kemudian. 🙂 Eh, rumah virtual kita masih ada lho ya. Lama buanget gak ditengok.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s